Categories
Balinese Dance Dance

Balinese Dance

Tari Panyembrama

Larik kata Panyembrama bermakna penyambutan, dimana hal tersebut terangkum pada gerak tari ini yang melukiskan keramahan serta penghormatan. Serpih-serpih kembang yang ditaburkan ke hadapan para tamu adalah ungkapan selamat datang. Tari ini tercipta awal tahun tujuh puluhan oleh seniman I Nyoman Kaler (Alm).


 

 

Tari Pendet

pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi “ucapan selamat datang”, meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi (? – 1967).Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara.

 

 

Tari Kecak

Kecak berasal dari ritual Sanghyang, yaitu tradisi dimana penarinya akan dalam keadaan tidak sadar karena melakukan komunikasi dengan tuhan, atau roh para leluhur yang kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Pada tari kecak tidak menggunakan alat musik dan hanya menggunakan kincringan yang dikenakan pada kaki para penari yang sedang memerankan tokoh-tokoh Ramayana. Sedangkan para penari yang duduk melingkar mengenakan kain kotak-kotak yang melingkari pinggang mereka.

 

 

Tari Cendrawasih

Tari ini melantunkan kelembutan serta kemesraan dari sepasang burung cendrawasih saat menghiasi alam sekelilingnya dengan tarian cinta mereka yang tersusun atas warna-warni pelangi terpendar dalam rangkuman gerak mereka yang indah bagaikan penggalan puisi para pujangga. Merupakan buah cipta Ibu Swasti Bandem, SST.

 

 

Tari Panjisemirang

Tari ini mengambil tema dari serat panji, dimana  digambarkan tingkah laku yang anggun nan penuhperbawa dari tokoh Chandra Kirana saat menyamar sebagai taruna tampan dalam upaya mencari kekasihnya yang tercinta, Raden Inu Kertapati. Tari ini adalah buah karya I Nyoman Kaler (Alm) sekitar tahun 1942.

 

 

Tari Legong Keraton

Tari klasik tradisional ini menceritakan tentang penolakan pernyataan cinta Prabu Lasem oleh Dyah Langkesari, yang telah mempunyai kekasih, Raden Asmarabangun. Oleh penolakan tersebut Prabu Lasem menjadi murka sehingga timbullan perseteruan antara Prabu Lasem dengan burung garuda yang merupakan utusan dari Raden Asmarabangun. Dengan dukungan gerak yang ritmis dinamis dan cenderung abstrak, tari ini tampil sangat memukau.

 

 

Tari Oleg Tamulilingan

Tari ini berkisah tentang keindahan dari sepasang kumbang yang sedang bercengkerama diantara mekarnya bebunggan di taman nirwana. Ketika kumbang betina sedang asyik menikmati sari puspa warna dengan riangnya, datanglah kumbang jantan yang jenaka menggodanya. Mereka berkejaran kian kemari dan tak lama kemudian mereka pun memadu kasih dengan mesranya. Diciptakan oleh Bapak Ketut Mario pada tahun 1962.

 

 

Tari Manukrawa

Tari ini melukiskan sekelompok burung yang sedang berkiprah dengan riangnya pada lingkungan hidupnya yang asri lestari. Kecipak langkah serta kibasan sayap mereka yang menawan tampil dengan indahnya pada keseluruhan gerak tari ini.

 

 

Tari Belibis

Tari ini bertutur tentang Prabhu Anglingdharma yang telah melanggar sumpah setia istrinya, sehingga ia beealih ujud menjadi seekor burung belibis. Dalam pengembaraannya bergabunglah ia dengan belibis lainnya, bersama-sama mereka memamerkan tarian yang indah gemulai sertaanggun mempesona yang selalu mewarnai gerak kehidupan mereka. tari ini adalah hasil kreasi Ibu Swasti Bandem, SST.

 

 

Joged Bungbung

Joged Bungbung is one of the Balinese social dance performed outside of temple walls. After a brief solo, the female dancer invites a man from the audience and makes him dance with her.

 

 

Janger

Merupakan jenis tarian pergaulan, terutama bagi muda mudi, yang sangat populer di Bali yang dilakukan oleh sekitar 10 pasang muda-mudi. Selama tarian berlangsung kelompok penari wanita (Janger) dan kelompok penari pria (Kecak) menari dan bernyanyi bersahut-sahutan. Pada umumnya lagu-lagunya bersifat gembira sesuai dengan alam kehidupan mereka. Gamelan yang biasa dipakai mengiringi tari Janger disebut Batel (Tetamburan) yang dilengkapi dengan sepasang gender wayang. Munculnya Janger di Bali diduga sekitar abad ke XX, merupakan perkembangan dari tari sanghyang. Jika kecak merupakan perkembangan dari paduan suara pria, sedangkan jangernya merupakan perkembangan dari paduan suara wanita.

 

 

Balinese music


1. Rindik


Rindik merupakan salah satu alat musik tradisional Bali yang terbuat dari Bambu yang pada nadanya adalah berdasarkan Selendro. Alat musik ini di pergunakan pada upacara perkawinan dan acara perjamuan ataupun upacara lainnya.

 

 

2. Gamelan

Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.

Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam perbedaannya dengan musik India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanikannya. Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan.

 

 

3. Beleganjur

The beleganjur (variously spelled baleganjur or belaganjur) or marching gamelan is a common sight in Bali and is often seen accompanying ritual processions related to cremation or other ceremonial events. It is also occasionally seen played as a sitting gamelan for odalan (temple cleansing) ceremonies and other temple ceremonies. The music is typically a hypnotic, trance-inducing series of percussive loops, punctuated by crashing cymbals, often in highly complex staccato rhythms. In fact, the chaotic energy created by the beleganjur is felt to create a virtual sonic force-field of protection around the ritual object being transported in the procession, as well as help throw participants into trance to enable them to carry often very heavy funeral platforms for many miles.